Thariq bin Ziyad Sang Penakluk Andalusia

Thariq bin Ziyad

Thariq bin Ziyad Sang Penakluk Andalusia

Thariq bin Ziyad Sang Penakluk Andalusia – Wisata ke Eropa juga meninggalkan sedikit banyak dari peninggalan-peninggalan Islam terutama di wilayah Andalusia atau Spanyol saat ini yang menghadirkan berbagai macam cerita. Mungkin sebagian dari teman-teman sedikit asing atau bahkan sedikit tahu mengenai Thariq bin Ziyad sang penakluk ini, memiliki julukan Taric el Tuerto yang berarti Taric satu mata, Thariq bin Ziyad merupakan jendral dari dinasti ummayah yang memimpin penaklukan Andalusia yang sekarang ini kita kenal dengan nama Spanyol, Portugal, Andorra, Gibraltar dan sekitarnya pada musim panas tahun 711 M atas kerajaan Visigoth yang dipimpin oleh Roderick dalam pertempuran Guadalete. Atas kemenangannya dan keberhasilannya menaklukkan wilayah semenanjung Iberian atau Andalusia Thariq bin Ziyad ditunjuk sebagai pemimpin wilayah Andalusia. Menariknya dalam upaya penaklukan Andalusia, setelah berhasil sampai dan menadarat di Gibraltar ia memerintahkan anakbuahnya untuk membakar semua kapalnya dan berkata di depan pasukannya :

أيّها الناس، أين المفر؟ البحر من ورائكم، والعدوّ أمامكم، وليس لكم والله إلا الصدق والصبر…

Tidak ada jalan untuk melarikan diri! Laut di belakang kalian, dan musuh di depan kalian: Demi Allah, tidak ada yang dapat kalian sekarang lakukan kecuali bersungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran.

Legenda Penaklukan Andalusia

Wanita Tua dan Kota Algericas

Dikisahkan setelah menaklukkan Kota Algericas datanglah seoranag wanita tua untuk meminta menghadap ke Thariq, setelah bertemu dengan Thariq ia mengatakan perkataan yang pernah dikatakan suaminya bahwa suatu hari negeri ini akan ditaklukkan oleh jendral asing yang memiliki kening menonjol dan tahi lalat di pundak kirinya. Mendengar apa perkataan wanita tua tersebut Thariq membuka pundak bagian kirinya yang ternayata sama dengan apa yang dikatakan oleh wanita tua tersebut.

Istana dengan 27 Gembok

Di wilayah Toledo yang merupakan bagian kerajaan Visigoth terdapat istana yang sangat indah dan memiliki 27 gembok, dimana gembok-gembok tersebut berasal dari raja-raja sebeumnya yang mengatakan bahwa tempat tersebut tidak boleh dimasuki oleh satu orangpun, sehingga setiap raja menambahkan satu gembok sehingga totalnya ada 27 gembok. Tetapi saat Roderick naik tahta, ia membuka semua gembok dan memasuki bagian dari istana itu satu persatu dan diruangan yang paling dalam dia menemukan lukisan orang-orang yang menunggangi kuda, memakai baju yang penuh debu dan kasar serta memakai sorban di kepala dengan membawa pedang yang melengkung. Di bawah lukisan itu terdapat sebuah tulisan yang mengatakan :

“Kapan pun ruang perlindungan ini dilanggar dan mantra yang terdapat pada guci ini dilanggar, orang-orang yang terlukis pada guci ini akan menyerbu Andalusia, menggulingkan singgasana rajanya, serta menduduki seluruh negeri”

Disitulah raja Roderick meyakini bahwa kesialan akan menimpa dirinya.

Thariq bin Ziyad 1

Ekspedisi dan Penaklukan

Setelah izin dari Khalifah Walid didapatkan, Musa bin Nusayr mengirim pasukan ekspedisi ke wilayah Andalusia atau Semenanjung Iberia. Pasukan ini dipimpin Tarif bin Malik (Tarif Abu Zar’ah bin Malik Al-Mughaferi). Tarif bin Malik memimpin kurang lebih 500 pasukan yang di dalamnya terdapat 100 penunggang kuda. Tarif berangkat dengan empat buah kapal dan mendarat di pulau paling selatan dari Andalusia. Kelak, pulau ini dinamakan Tarifa yang berasal dari nama Tarif bin Malik.

Setelah mendarat Tarif bin Malik segera melaksanakan perintah dari Musa bin Nusayr untuk menyerang wilayah terdekat dari tempat berlabuh. Setelah berhasil menaklukkan wilayah terdekat, Tarif bin Malik kembali ke Musa bin Nusayr serta membawakan harta rampasan perang. Tarif bin Malik menyebut negeri itu dengan sebutan Jazirat al-Khadra (pulau yang hijau) untuk menyebut Semenanjung Iberia.

Penaklukan

Saat waktu untuk penaklukan Andalusia tiba Musa bin Nusayr menunjuk Thariq bin Ziyad sebagai pemimpin pembebasan ini. Thariq dengan 12.000 pasukan mayoritasnya adalah bangsa Berber, dengan 300 orang dari bangsa Arab serta 700 orang dari bangsa Afrika. Didampingi oleh Julian dari Ceute yang bertugas sebagai intel serta penunjuk jalan pasukan Thariq bin Ziyad. Para pasukan berangkat dari Ceuta menggunakan kapal Julian dengan cara menyamar. Pengangkutan pasukan Thariq bin Ziyad dilakukan secara bolak-balik pada malam hari agar tidak mencurigakan.

Awalnya Thariq bin Ziyad ingin mendarat di wilayah Algeciras tetapi tidak dilakukannya karena kota Algeciras itu dijaga oleh pasukan Visigoth. Pada akhirnya, Thariq dan pasukannya mendarat di Calpe,yaitu arah timur dari Algeciras. Kelak, Calpe berubah namanya menjadi Jabal Al-Fatah (Gunung Kemenangan). Namun, tempat ini lebih dikenal dengan nama Jabal Tariq atau Gibraltar.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s